Salam sehat dan semangat, para pembaca yang saya hormati.

Saya akui, selama ini kita sering disuguhi cerita-cerita indah tentang Camino de Santiago. Foto-foto matahari terbit yang dramatis, senyuman para peziarah di jembatan batu kuno, dan tulisan-tulisan inspirasif tentang “menemukan jati diri”. Semua itu benar adanya. Namun hari ini, ijinkan saya bersikap jujur—mungkin sedikit kasar, tetapi jujur.

Karena Camino bukanlah liburan resort. Camino bukanlah perjalanan instagramable tanpa keringat. Camino adalah pertarungan antara Anda, medan terjal, dan kaki yang mungkin berteriak kesakitan setiap malam. Mari kita bicarakan realitas yang sering tidak difoto.

Lepuh Musuh Nomor Satu yang Tak Pernah Berkompromi

Pembaca yang budiman, izinkan saya memulai dengan musuh terbesar setiap peziarah: lepuh. Anda mungkin berpikir, “Ah, hanya lepuh biasa.” Salah besar. Lepuh di Camino bisa tumbuh sebesar koin Rp500, berisi cairan bening atau bahkan darah, dan muncul di sela-sela jari, tumit, telapak kaki, atau tempat-tempat paling tidak terduga.

Saya pernah bertemu dengan seorang gadis asal Brasil di Logroño. Ia berjalan tertatih-tatih seperti zombie, kedua kakinya dibalut perban tebal hingga tampak seperti kaki robot. Dengan mata berkaca-kaca, ia menunjukkan telapak kakinya. Saya hampir pingsan melihatnya. Lepuh di tumitnya sudah pecah, kulitnya terkelupas, dan daging merah muda di bawahnya terlihat jelas.

“Saya membaca blog yang bilang sepatu harus kekecilan setengah ukuran,” katanya terisak. “Itu saran terburuk dalam hidup saya.”

Pelajaran penting, para pembaca: jangan pernah percaya saran ekstrem tentang sepatu. Sepatu Camio harus nyaman sejak pertama kali Anda pakai. Bukan setelah “dipecah” selama 200 kilometer. Bawa juga perlengkapan lepuh: kompres hidrokoloid, alkohol swab, jarum steril (untuk mengeluarkan cairan), dan perban kasa. Percayalah, apotek di desa-desa kecil Spanyol buka hanya sampai jam 2 siang. Jika lepuh Anda pecah di malam Minggu, Anda akan menderita sampai Senin pagi.

Hujan Galicia Ketika Langit Menangis Bersama Anda

Anda mungkin membayangkan Camino dipenuhi sinar matahari Spanyol yang hangat. Kenyataannya? Wilayah Galicia—100 kilometer terakhir—adalah salah satu daerah terbasah di Eropa. Curah hujannya bisa mencapai 1.800 mm per tahun. Bandingkan dengan Jakarta yang hanya sekitar 1.700 mm.

Artinya: Anda akan basah. Bukan basah karena keringat, tetapi basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Hujan di Galicia tidak mengenal musim. Bisa turun di bulan Juli, saat seluruh Eropa sedang kepanasan.

Seorang peziarah asal Australia bercerita kepada saya di sebuah albergue di Palas de Rei. Hari itu ia berjalan 28 kilometer dalam hujan deras. Jaket “waterproof” seharga 200 euro ternyata tidak begitu waterproof. Ponselnya mati karena air masuk ke saku tas. Dan ketika ia sampai di albergue, tidak ada air panas karena ketel listrik rusak.

“Apakah kamu menangis?” tanya saya.

“Tidak hanya menangis,” jawabnya sambil tertawa pahit. “Saya berteriak mengutuk Camino, mengutuk Spanyol, mengutuk diri sendiri yang pernah berpikir ini ide bagus. Tapi setelah mandi air dingin dan makan sup hangat, saya lupa semua omelan itu.”

Pelajaran kedua: bawa jas hujan yang benar-benar bagus, plastik kedap air untuk barang elektronik, dan terimalah kenyataan bahwa beberapa hari akan terasa menyedihkan. Itu bagian dari perjalanan.

Albergue Municipal Tempat Tidur Keras dan Dengkuran Olimpiade

Mari kita bicarakan akomodasi. Camino memang memiliki albergue (penginapan peziarah) yang murah, mulai dari €5 hingga €15 per malam. Namun yang tidak diberitahukan brosur pariwisata adalah:

  • Tempat tidurnya keras seperti lantai kayu. Kasur sering hanya busa tipis setebal dua jari. Jika Anda punya masalah punggung, bersiaplah.
  • Dengkuran. Bayangkan 30 orang kelelahan tidur dalam satu ruangan. Dengkuran akan terdengar dari segala arah, dengan berbagai nada dan volume. Ada yang mendengkur pelan seperti kucing purring, ada yang seperti mesin pemotong rumput, ada yang seperti badai tropis. Anda akan belajar tidur dengan bantal menekan telinga.
  • Jam malam. Banyak albergue menerapkan jam tutup pukul 10 malam. Jika Anda datang terlambat, pintu terkunci. Tidak ada resepsionis yang bangun untuk membukakan. Anda bisa tidur di teras dalam kondisi suhu 5 derajat Celcius.

Saya tidak mengatakan ini untuk menakut-nakuti Anda, pembaca yang budiman. Saya mengatakan ini agar Anda siap mental. Camino bukan hotel bintang lima. Camio adalah sekolah kerendahan hati dalam bentuk tempat tidur susun dan bantal yang baunya seperti keringat orang asing.

“Camino Crawl” Saat Kaki Tidak Bisa Diajak Kompromi

Ada istilah tidak resmi di kalangan peziarah: Camino Crawl (merangkak di Camino). Ini bukan gerakan olahraga, melainkan kondisi di mana Anda sudah sangat kelelahan sehingga berjalan pun terasa seperti merangkak.

Saya mengalaminya di hari ke-18, antara Burgos dan León. Medannya datar tak berujung, ladang gandum yang membentang sejauh mata memandang. Tidak ada bayangan. Suhu mencapai 35 derajat Celcius. Botol air saya habis 10 kilometer sebelum desa berikutnya.

Langkah saya melambat dari 5 km/jam menjadi 2 km/jam. Setiap 500 meter, saya berhenti. Pikiran saya mulai kacau. Saya membayangkan memanggil taksi (padahal tidak ada taksi di tengah ladang). Saya membayangkan berhenti total dan tidur di pinggir jalan.

Tapi seorang lelaki tua dari Belanda berjalan di belakang saya. Ia tidak bicara. Ia hanya terus melangkah dengan kecepatan stabil, meskipun jelas ia juga kelelahan. Saya memutuskan untuk mengikuti ritmenya. Satu langkah. Dua langkah. Seribu langkah. Akhirnya, setelah 3 jam berjalan seperti zombie, kami sampai di sebuah bar pedesaan.

Lelaki itu membelikan saya segelas Coca-Cola dingin. Ia berkata hanya satu kata: “Tahan.” Lalu ia pergi ke kamar mandi. Saya tidak pernah melihatnya lagi setelah hari itu.

Pelajaran ketiga: Camino akan memecahkan Anda, tetapi juga akan mengajarkan Anda untuk bangkit. Rasa sakit adalah bagian dari proses. Tidak ada pertumbuhan tanpa ketidaknyamanan.

Menstruasi, Toilet, dan Realitas Perempuan di Camino

Sebagai penutup di bagian realitas, saya ingin menyentuh topik yang jarang dibahas: bagaimana perempuan menghadapi menstruasi di Camino. Ini penting, karena sekitar 50% peziarah adalah perempuan.

Toilet umum di Camino jumlahnya terbatas. Banyak jalur yang tidak memiliki toilet selama 5-6 jam berjalan. Para peziarah perempuan harus belajar “buang air di alam” dengan cara yang aman dan sopan. Mereka juga harus membawa persediaan pembalut atau menstrual cup, serta kantong plastik untuk sampah karena tempat sampah tidak selalu tersedia.

Saya bertanya kepada seorang peziarah perempuan dari Korea tentang pengalamannya. Ia berkata, “Di hari pertama menstruasi, saya menangis di toilet albergue. Saya merasa kotor, lelah, dan ingin pulang. Tapi kemudian saya sadar: ini adalah tubuh saya. Ini alami. Saya tidak perlu malu. Saya hanya perlu bersiap lebih baik.”

Pelajaran keempat: persiapan yang matang dan penerimaan terhadap ketidaksempurnaan adalah kunci. Camino tidak peduli apakah Anda sedang menstruasi, sedang sakit kepala, atau sedang patah hati. Camio tetap berjalan. Dan Anda harus memutuskan apakah akan berhenti atau terus melangkah.

Mengapa Saya Tetap Merekomendasikan Camino?

Setelah semua cerita mengerikan ini—lepuh, hujan, tempat tidur keras, kelelahan ekstrem, dan toilet yang jarang—mungkin Anda bertanya, “Mengapa ada orang yang mau melakukan ini?”

Jawabannya sederhana: karena setelah semua penderitaan itu, ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

  • Kebahagiaan saat Anda berhasil mendaki bukit terjal dan melihat pemandangan lembah di bawah.
  • Kebahagiaan saat Anda mandi air panas setelah berhari-hari hanya bisa lap badan.
  • Kebahagiaan saat Anda berbagi sebotol anggur murah dengan orang asing yang kini terasa seperti saudara.
  • Kebahagiaan saat Anda tiba di Santiago dan menyadari bahwa Anda melakukannya. Anda benar-benar melakukannya.

Realitas Camino memang tidak selalu indah. Tapi justru di situlah letak keindahannya. Camino tidak menjanjikan kemudahan. Camio menjanjikan pertumbuhan. Dan pertumbuhan, para pembaca yang saya hormati, hampir selalu terasa sakit terlebih dahulu sebelum terasa manis.

Pesan Penutup untuk Calon Peziarah

Jika Anda sedang membaca artikel ini karena berencana melakukan Camino, izinkan saya memberi beberapa nasihat terakhir:

  1. Latih kaki Anda setidaknya sebulan sebelumnya. Jalan 10 km setiap akhir pekan. Jangan tiba-tiba memaksakan 25 km di hari pertama.
  2. Bawa perlengkapan lepuh. Jangan pelit. Kompres hidrokoloid adalah penyelamat hidup.
  3. Jangan bawa banyak barang. Jika ragu, tinggalkan. Anda bisa beli di Spanyol jika benar-benar butuh.
  4. Siap mental untuk hari-hari buruk. Itu normal. Itu bagian dari proses. Jangan menyerah hanya karena satu hari terasa menyiksa.
  5. Ingatlah mengapa Anda mulai. Di saat paling sulit, ingatlah alasan awal Anda melakukan ini. Biarkan itu menjadi bahan bakar.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca realitas Camino secara jujur. Sama sekali tidak saya niatkan untuk menakuti Anda. Justru sebaliknya, saya ingin Anda berangkat dengan mata terbuka, sehingga tidak kaget dan kecewa.

Camino akan meremukkan Anda, tetapi juga akan membangun Anda kembali. Dan ketika itu terjadi, Anda akan menjadi versi diri yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih bersyukur.

Buen Camino, para pejuang sejati. Jangan lupa bawa plester lepuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *