Salam damai untuk Anda, para pembaca yang saya hormati.

Apa hal terberat yang pernah Anda bawa dalam hidup ini? Bukan koper atau ransel, melainkan beban yang tak kasat mata—kenangan pahit, rasa bersalah, ekspektasi orang tua, atau rasa takut akan masa depan. Kita semua membawa sesuatu. Dan kabar buruknya, kita sering tidak menyadari bahwa beban itu ada sampai punggung kita hampir patah.

Hari ini, saya ingin mengajak Anda berjalan bersama saya di Camino de Santiago, bukan dengan sepatu hiking, melainkan dengan hati yang jujur. Karena percayalah, jalan setapak di Spanyol utara itu telah mengajarkan satu hal yang mungkin lebih berharga daripada sertifikat peziarahan: seni melepaskan.

Hari Pertama Ransel yang Terlalu Berat

Izinkan saya memulai dengan sebuah pengakuan. Ketika pertama kali memulai Camino dari Saint-Jean-Pied-de-Port, ransel saya berbobot 12 kilogram. Kedengarannya tidak terlalu berat, bukan? Tapi setelah menanjak selama empat jam melewati Pyrenees, bahu saya terasa seperti diremas-remas oleh tangan raksasa. Setiap langkah adalah perjuangan. Kaki terasa tertambat ke tanah.

Di malam pertama di Roncesvalles, seorang peziarah veteran asal Jerman menatap ransel saya dan tertawa kecil. “Ada apa di dalam sana? Bawa batu bata?” candanya. Saya buka ransel saya: tiga pasang sepatu (ya, tiga!), jaket tebal untuk musim dingin padahal saat itu bulan Juni, buku harian tebal, laptop kecil, dan berbagai “barang darurat” yang tidak pernah darurat. Saya membawa segala kemungkinan.

Dia bilang kepada saya, “Kamu tidak berjalan dengan ransel, Nak. Kamu berjalan dengan ketakutanmu. Kamu takut kekurangan sesuatu, jadi kamu bawa semuanya. Tapi Camino akan mengajarkanmu: kamu tidak butuh sebanyak itu untuk hidup.”

Keesokan paginya, saya mengirim pulang 4 kilogram barang melalui pos. Dan rasanya… ringan. Bukan hanya fisik, tetapi sesuatu di dalam dada juga ikut terangkat.

Perumpamaan Tentang Dua Jenis Berat

Pembaca yang budiman, izinkan saya bertanya. Apakah Anda juga punya “ransel” dalam hidup Anda? Barang-barang yang mungkin tidak pernah Anda gunakan, tetapi takut untuk dibuang? Misalnya:

  • Kekecewaan masa lalu yang terus Anda ceritakan ulang dalam kepala.
  • Hubungan yang sudah mati tetapi Anda paksakan bertahan.
  • Impian orang tua yang tidak sesuai dengan keinginan hati Anda.
  • Rasa bersalah atas kesalahan yang sudah tidak bisa diperbaiki.
  • Kebutuhan untuk selalu terlihat sempurna di mata orang lain.

Camino mengajarkan perbedaan antara berat yang perlu dan berat yang sia-sia. Botol air itu berat, tapi Anda membutuhkannya untuk bertahan hidup. Kenangan buruk masa lalu itu juga berat, tapi apakah ia menyelamatkan Anda? Atau justru membebani setiap langkah Anda menuju kebahagiaan?

Cruceiro dan Momen “Menyerah”

Saya tidak akan pernah melupakan sore kelima di perjalanan, tepatnya di luar kota Puente la Reina. Saya duduk di bawah sebuah cruceiro (salib batu) karena kaki kiri saya mulai kram. Seorang wanita paruh baya dari Argentina duduk di samping saya. Kami tidak saling sapa selama sepuluh menit. Hanya angin dan gemerisik daun.

Lalu tiba-tiba dia berkata, “Saya berjalan ke sini untuk memaafkan suami saya. Dia selingkuh dua tahun lalu, dan saya masih membawanya di hati setiap hari. Saya pikir Camino akan menyembuhkan saya. Tapi ternyata, yang saya butuhkan bukanlah jarak. Yang saya butuhkan adalah izin untuk melepaskan.”

Dia menangis. Saya diam. Lalu dia melanjutkan, “Di cruceiro ini, saya memutuskan untuk berhenti membenci. Bukan karena dia pantas dimaafkan, tapi karena saya pantas untuk damai.”

Saya tidak tahu nama wanita itu. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar berhasil melepaskan. Tapi saya tahu bahwa di sore itu, di bawah salib batu yang lembap karena embun, saya menyaksikan sebuah keajaiban: seseorang memilih untuk menjadi ringan.

Tradisi Batu di Punta de Hierro

Mungkin Anda sudah mendengar tentang tradisi meletakkan batu di sepanjang Camino. Di titik tertinggi Camino Francés, yaitu Cruz de Hierro (Salib Besi) di ketinggian 1.504 meter di atas permukaan laut, para peziarah membawa batu dari rumah. Batu itu melambangkan beban hidup yang ingin mereka tinggalkan.

Tapi tahukah Anda? Tradisi ini sebenarnya tidak wajib. Tidak ada aturan resmi dari Gereja. Tidak ada hukuman jika Anda tidak melakukannya. Namun hampir semua peziarah melakukannya. Mengapa? Karena ada sesuatu yang sangat manusiawi dan menyembuhkan dalam ritual sederhana itu: mengambil sesuatu yang berat dari saku Anda, lalu meletakkannya di tanah, dan berjalan pergi tanpa menoleh ke belakang.

Saya membawa batu kecil dari sungai dekat rumah masa kecil saya. Di atas batu itu, secara mental, saya menuliskan satu kata: “Takut.” Saya takut gagal dalam karier, takut mengecewakan keluarga, takut mati muda seperti ayah saya. Ketika batu itu jatuh dari tangan saya di kaki tiang salib, saya merasakan sesuatu yang aneh. Saya tidak tiba-tiba menjadi pemberani. Tapi saya merasa bahwa ketakutan itu sekarang di luar sana, bukan di dalam sini.

Ada perbedaan besar antara tidak memiliki ketakutan dan tidak membiarkan ketakutan mengendalikan Anda. Camino mengajarkan yang kedua.

Hari Terakhir Ransel yang Berbeda

Ketika saya tiba di Plaza del Obradoiro, di depan Katedral Santiago, ransel saya hanya berbobot 6 kilogram. Saya telah membuang pakaian yang tidak perlu, memberikan buku kepada peziarah lain, bahkan melepas tali sepatu cadangan. Ransel saya penuh dengan lubang kecil dan debu.

Namun anehnya, saya merasa lebih kaya daripada saat berangkat. Kaya akan cerita. Kaya akan pelajaran. Kaya akan rasa syukur atas hal-hal kecil: air dingin dari keran umum, tempat tidur yang keras tapi gratis, senyuman dari orang asing yang tidak pernah saya temui lagi.

Saya duduk di tangga katedral, membuka buku harian (yang hampir semua halamannya terisi), dan menulis satu kalimat: “Saya datang ke Camino untuk mencari sesuatu. Ternyata yang saya butuhkan hanyalah membuang banyak hal.”

Pesan untuk Anda yang Sedang Membawa Beban Berat

Pembaca yang saya hormati, saya tidak tahu beban apa yang sedang Anda bawa saat membaca artikel ini. Mungkin Anda sedang duduk di kereta menuju kantor, di kamar kos yang sempit, atau di ruang keluarga yang sepi. Tapi izinkan saya berpesan dengan sepenuh hati:

Anda tidak harus pergi ke Spanyol untuk memulai Camino Anda.

Camino bisa dimulai kapan saja, di mana saja. Di kamar tidur Anda, ketika Anda membuka lemari dan memutuskan untuk membuang baju-baju yang sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Di meja makan, ketika Anda berani bilang “tidak” kepada ekspektasi orang tua yang membebani. Di dalam hati, ketika Anda memaafkan seseorang—bukan karena mereka meminta maaf, tetapi karena Anda lelah membawa amarah.

Melepaskan bukanlah kekalahan. Melepaskan adalah pengakuan bahwa Anda manusia, bahwa Anda terbatas, bahwa Anda tidak bisa membawa seluruh dunia di pundak Anda. Melepaskan adalah keberanian untuk memilih apa yang benar-benar penting, dan membuang sisanya.

Camino Ada di Dalam Dirimu

Bulan lalu, seorang teman bertanya kepada saya, “Apakah kamu akan kembali ke Camino?”

Saya tersenyum. “Setiap hari,” jawab saya. “Setiap hari saya memilih untuk melepaskan sesuatu yang tidak perlu. Setiap hari saya memutuskan untuk tetap berjalan meskipun lelah. Setiap hari saya berusaha menjadi versi diri saya yang lebih ringan. Itu Camino. Dan itu tidak pernah berakhir.”

Pembaca yang baik hati, mungkin Anda tidak akan pernah menginjakkan kaki di Spanyol. Mungkin Anda tidak akan pernah melihat katedral Santiago atau meletakkan batu di Cruz de Hierro. Tapi Camino tetap bisa menjadi milik Anda. Caranya? Sederhana. Mulai besok pagi, tanyakan pada diri sendiri: “Apa satu beban yang bisa saya lepaskan hari ini?”

Lalu lepaskan. Perlahan. Satu per satu. Dan rasakan bagaimana langkah Anda menjadi lebih ringan.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merenung bersama saya. Saya tidak tahu jalan apa yang sedang Anda tapaki saat ini, tapi saya berharap suatu hari nanti Anda menemukan kedamaian untuk melepaskan, dan keberanian untuk tetap melangkah.

Buen Camino, para pejuang yang lelah. Rumah tidak selalu di tempat tujuan, kadang rumah adalah saat kita merasa cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *