Salam sukses dan semangat, para pembaca yang saya hormati.
Saya punya sebuah pertanyaan jujur untuk Anda: Berapa banyak mimpi yang Anda tunda karena alasan “belum punya uang”? Berapa banyak tempat yang ingin Anda kunjungi, tetapi batal karena tiket pesawat mahal, akomodasi mahal, hidup di Eropa mahal? Saya dulu juga berpikir seperti itu. Saya pikir Camino de Santiago adalah petualangan orang kaya yang punya tabungan besar dan cuti panjang tanpa tanggungan.
Ternyata, saya keliru besar.
Hari ini, saya akan membongkar semua rahasia melakukan Camino dengan anggaran super hemat. Bukan karena saya pelit, tetapi karena saya ingin membuktikan bahwa mimpi itu tidak harus menunggu rekening bank tebal. Camio adalah jalan untuk semua orang. Termasuk Anda yang kantongnya pas-pasan.
Mitos vs Fakta Camio Itu Mahal?
Mari kita luruskan dulu, pembaca yang budiman. Banyak orang mengira bahwa berziarah di Eropa pasti mahal karena bayangan “Eropa = mahal” sudah melekat. Tapi Camino de Santiago berbeda.
Camino dibangun selama ribuan tahun untuk peziarah biasa—bukan turis kaya. Petani, tukang kayu, ibu rumah tangga, dan rakyat jelata dari seluruh Eropa pernah berjalan di jalan ini dengan uang pas-pasan. Infrastrukturnya pun dirancang untuk mereka yang tidak punya banyak.
Jadi, jangan bandingkan Camio dengan liburan ke Paris atau Swiss. Camio adalah dunia yang berbeda dengan logika ekonomi yang berbeda pula.
Rincian Biaya Sebenarnya
Baiklah, saya akan jujur soal uang. Saya melakukan Camino Francés selama 35 hari (dari Saint-Jean-Pied-de-Port ke Santiago) dengan total pengeluaran sekitar Rp15.000.000 di luar tiket pesawat pulang-pergi. Mari kita bedah:
1. Tiket Pesawat (Rp9.000.000 – Rp12.000.000)
Ini komponen termahal. Saya terbang dari Jakarta ke Madrid PP dengan maskapai penerbangan murah musim low season (Maret). Tips: beli tiket 4-6 bulan sebelumnya, gunakan mode incognito saat mencari harga, dan fleksibel dengan tanggal. Jika Anda berangkat dari Singapura atau Kuala Lumpur, bisa lebih murah lagi.
2. Akomodasi (Rp3.500.000 atau rata-rata Rp100.000 per malam)
Ini kejutan terbesarnya. Albergue municipales (penginapan pemerintah) hanya sekitar €8-€12 per malam. Albergue paroki (kelola gereja) bahkan ada yang hanya €5-€8. Beberapa bahkan gratis dengan donasi sukarela. Saya menginap di Roncesvalles (€10), Zubiri (€8), Pamplona (€12), dan seterusnya. Harga segitu untuk satu malam di Eropa? Luar biasa murah.
3. Makanan (Rp3.500.000 atau rata-rata Rp100.000 per hari)
Sarapan: kopi + croissant atau tostada sekitar €3-€4.
Makan siang: beli bahan di supermarket (roti, keju, sosis, buah) sekitar €5-€6.
Makan malam: Menu del Peregrino (makanan lengkap 3 kursus) hanya €10-€12.
Total sehari: sekitar €18-€20 atau Rp300.000-Rp350.000. Tapi ini jika Anda boros. Jika masak sendiri di dapur albergue, bisa turun ke €12-€15 per hari.
4. Transportasi Lokal (Rp500.000)
Saya tidak menggunakan transportasi hampir sama sekali karena memang berjalan kaki. Hanya sekali naik bus dari Pamplona ke Saint-Jean-Pied-de-Port (€25) dan sekali dari Santiago ke Madrid (€40) karena kehabisan waktu.
5. Perlengkapan (Rp2.000.000 – Rp4.000.000)
Ini tergantung Anda punya sepatu hiking atau belum. Saya membeli sepatu merek lokal (bukan merek internasional) seharga Rp800.000, tas ransel 40L Rp500.000, jaket tipis anti-angin Rp300.000, dan sisanya kaus kaki wol, plester lepuh, botol air, dll. Saya tidak beli perlengkapan mahal. Sepatu Decathlon yang paling murah pun cukup jika sudah dipecah sebulan sebelumnya.
Total keseluruhan (termasuk tiket pesawat): sekitar Rp24.000.000 – Rp28.000.000 untuk 35 hari.
Itu termasuk perjalanan dari Jakarta, 35 hari di Spanyol, dan pulang. Bandingkan dengan liburan 2 minggu di Jepang yang bisa habis Rp30 juta. Camino sebenarnya lebih hemat.
Strategi Super Hemat Trik yang Tidak Banyak Diketahui
Sekarang, izinkan saya membagikan trik-trik yang membuat dompet saya tidak menjerit:
Trik 1: Donasi, Bukan Bayar Harga Tetap
Banyak albergue paroki tidak memasang harga. Mereka hanya menulis “donativo” (donasi sukarela). Ini bukan akal-akalan untuk menarik peziarah kaya. Ini adalah tradisi Kristen lama: berikan sesuai kemampuan Anda. Jika Anda punya uang, berikan €10. Jika sedang kencang, berikan €5. Jika benar-benar tidak punya, tetaplah bermalam dengan hormat. Saya menggunakan sistem ini dan tidak pernah ditolak.
Trik 2: Belanja di Supermarket, Bukan di Restoran
Spanyol memiliki jaringan supermarket murah bernama Dia dan Mercadona. Sepotong roti segar €0,50, sepotong keju €1,50, sebungkus ham €2, buah-buahan €2. Cukup untuk makan siang dan makan malam. Saya hanya makan di restoran 2-3 kali seminggu sebagai “hadiah” untuk diri sendiri.
Trik 3: Jalan di Musim Bahu (Shoulder Season)
Musim panas (Juni-Agustus) adalah musim puncak. Harga albergue naik, tempat tidur penuh, dan cuaca panas terik. Musim dingin (Desember-Februari) terlalu dingin dan banyak albergue tutup. Waktu terbaik untuk dompet adalah Maret-April atau September-Oktober. Suhu nyaman, harga murah, tidak terlalu ramai.
Trik 4: Bawa Botol Air Isi Ulang
Air minum di Spanyol aman dikeran. Jangan pernah beli air botol. Setiap desa memiliki air mancur umum, biasanya dengan tanda agua potable (air layak minum). Selama 35 hari, saya tidak beli air mineral satupun. Hemat €50-€70 hanya dari sini.
Trik 5: Gunakan Whatsapp untuk Komunikasi
Jangan beli kartu SIM mahal. Wifi di albergue dan kafe hampir selalu tersedia. Saya hanya menggunakan WhatsApp dan Google Maps offline. Jika benar-benar butuh data darurat, beli kartu prepaid Orange atau Vodafone dengan €10 untuk 10GB.
Pengeluaran Tak Terduga yang Perlu Diantisipasi
Saya harus jujur, pembaca yang budiman. Tidak semua biaya bisa diprediksi. Ada beberapa pengeluaran tak terduga:
- Plester dan perawatan lepuh: €10-€20 jika lepuh parah dan harus ke farmasi.
- Perbaikan sepatu: Sol sepatu saya hampir lepas di Burgos. Tukang sepatu lokal hanya minta €5 untuk merekatnya.
- Laundry: Cuci pakaian di albergue biasanya €3-€5 untuk mesin dan deterjen.
- Camilan darurat: Saat kelelahan ekstrem, saya memaafkan diri sendiri untuk membeli chocolate con churros di kafe. Itu bagian dari pengalaman. Jangan terlalu kaku dengan anggaran.
Hal yang Tidak Boleh Dihemat
Namun, ada beberapa hal yang justru sebaiknya tidak dihemat, demi keselamatan dan kenyamanan:
- Sepatu. Jangan beli sepatu palsu atau murahan. Kaki Anda adalah satu-satunya kendaraan di Camino. Investasi yang baik di sepatu akan menghemat biaya perawatan medis nanti.
- Asuransi perjalanan. Asuransi yang baik (sekitar Rp300.000-Rp500.000 untuk sebulan) bisa menyelamatkan Anda dari tagihan rumah sakit puluhan juta jika terjadi cedera serius.
- Kompres lepuh hidrokoloid. Ini mahal sedikit dari plester biasa, tapi efektifitasnya luar biasa. Jangan pelit untuk perawatan kaki.
Apakah Saya Menyesal Tidak Menginap di Hotel?
Saya sering ditanya, “Tidak capek tidur di albergue dengan 30 orang asing? Tidak pengin kamar sendiri?”
Jujur, ada beberapa malam saya sangat lelah dan membayangkan kasur hotel berbusa empuk. Tapi setelah 35 hari, saya bersyukur memilih albergue. Di sanalah saya bertemu Klaus, Maria, Yuki, Carlos. Di sanalah saya belajar berbagi ruang, mendengarkan dengkuran orang lain sebagai musik pengantar tidur, dan merasakan bahwa kebersamaan kadang lebih berharga daripada kenyamanan.
Camio mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu membutuhkan kemewahan. Kadang, yang paling membahagiakan justru yang paling sederhana.
Pesan untuk Anda yang Bermimpi Tapi Terhalang Biaya
Pembaca yang saya hormati, mungkin saat ini Anda membaca artikel ini sambil menghitung-hitung uang di rekening. Mungkin Anda berkata, “Tapi saya bahkan tidak punya Rp15 juta untuk tiket pesawat.”
Saya mengerti. Saya pernah di posisi itu. Tapi izinkan saya berpesan:
Camino tidak akan lari. Jalan itu akan tetap ada 10, 20, 50 tahun lagi. Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah mulai menabung, bahkan hanya Rp10.000 per hari. Dalam dua tahun, Anda akan memiliki cukup. Dalam tiga tahun, Anda akan berjalan di Spanyol.
Saya butuh tiga tahun menabung untuk Camino pertama saya. Saya menyisihkan uang rokok (saya berhenti merokok demi Camino), uang kopi di kafe, dan uang transportasi dengan naik angkutan umum daripada taksi online. Perlahan tapi pasti, tabungan itu tumbuh.
Jika seorang pegawai kantoran biasa seperti saya bisa melakukannya, saya yakin Anda juga bisa.
Camino untuk Semua Orang, Termasuk Anda
Camino de Santiago bukanlah klub eksklusif bagi mereka yang punya rekening tebal. Ia adalah jalan rakyat. Jalan bagi mereka yang percaya bahwa perjalanan yang sesungguhnya tidak diukur dari berapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi dari seberapa banyak hati yang terbuka.
Jadi, jangan biarkan alasan finansial mencuri mimpi Anda. Mulailah dari hal kecil hari ini. Buka tabungan Camino. Riset rute. Belajar bahasa Spanyol dasar. Pelan-pelan, langkah demi langkah, Anda akan mendekati garis start.
Dan ketika suatu hari nanti Anda berdiri di Saint-Jean-Pied-de-Port dengan ransel di punggung dan hati penuh harap, Anda akan tersenyum mengingat hari ini—ketika Anda membaca artikel ini dan memutuskan untuk tidak menyerah pada mimpi.
Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berhitung dan bermimpi bersama saya. Semoga rekening bank Anda tidak pernah menjadi penghalang untuk menjelajahi keindahan dunia.
Buen Camino, para pejuang finansial. Jalan itu terbuka untuk semua yang mau melangkah.