Salam hangat dan penuh kasih, para pembaca yang saya sayangi.

Apa definisi keluarga menurut Anda? Ibu yang memasak untuk Anda setiap pagi? Ayah yang mengantar ke sekolah? Kakak yang suka mengganggu tapi diam-diam melindungi? Saudara sekandung memang istimewa. Tapi bagaimana jika saya mengatakan bahwa di Camino de Santiago, saya menemukan keluarga kedua—saudara-saudara yang tidak memiliki hubungan darah, tetapi memiliki hubungan jiwa?

Hari ini, mari kita bicarakan tentang sesuatu yang mungkin menjadi keajaiban terbesar Camino: solidaritas manusia. Bukan tentang sejarah, bukan tentang arsitektur, bukan tentang spiritualitas dalam arti sempit. Tapi tentang bagaimana sekelompok orang asing bisa berubah menjadi keluarga hanya dalam hitungan hari, hanya karena memutuskan untuk berjalan ke arah yang sama.

Hari Pertama Kami Hanya Orang Asing

Di Saint-Jean-Pied-de-Port, kota kecil di kaki Pyrenees yang menjadi titik awal Camino Francés, saya duduk sendirian di sebuah kafe. Di luar, puluhan orang dari berbagai negara sedang mempersiapkan ransel mereka. Wajah-wajah penuh semangat, tetapi juga penuh kegugupan. Termasuk saya.

Seorang pria paruh baya dari Italia duduk di meja sebelah. Kami saling mengangguk, lalu kembali ke makanan masing-masing. Seorang gadis muda dari Korea Selatan sedang bertengkar dengan ponselnya karena sinyal buruk. Sepasang suami istri dari Jerman tampak sibuk memeriksa peta. Kami semua asing. Kami semua sendirian dalam keramaian.

Saya tidak tahu bahwa beberapa dari mereka akan menjadi orang-orang yang paling saya rindukan setelah perjalanan ini berakhir.

Hari Ketiga Bahasa Cinta Lebih Kuat dari Bahasa Dunia

Di Zubiri, sekitar tiga hari perjalanan, kaki saya mulai terasa aneh. Lepuh kecil mulai muncul di tumit kanan. Saya duduk di pinggir jalan sambil menggerutu sendiri. Tidak lama kemudian, seorang perempuan dari Brasil—Maria namanya—mendekat. Ia tidak bicara banyak. Hanya membuka tas pertolongan pertamanya, mengambil kompres hidrokoloid, lalu dengan lembut membantu saya membalut kaki.

“Saya perawat di Sao Paulo,” katanya dalam bahasa Spanyol yang saya pahami sedikit-sedikit. “Di Camino, kita harus saling jaga.”

Kata-kata sederhana itu membuat mata saya berkaca-kaca. Bukan karena luka, tapi karena saya tidak terbiasa ditolong orang asing tanpa pamrih. Di kota besar tempat saya tinggal, setiap bantuan biasanya berharga. Tapi di Camino, bantuan datang begitu saja, seperti udara yang bebas dihirup.

Sejak hari itu, Maria menjadi seperti kakak bagi saya. Kami tidak selalu berjalan bersama—ia lebih cepat karena kakinya panjang—tetapi setiap malam kami pasti bertemu di albergue, bertukar cerita tentang hari yang dilewati, dan tertawa bersama.

Hari Ketujuh Makan Malam Keluarga di Los Arcos

Los Arcos adalah kota kecil yang nyaman. Saya tiba di albergue paroki setempat sekitar pukul lima sore. Di ruang komunal, sudah berkumpul sekitar lima belas peziarah dari berbagai negara. Seorang sukarelawan asal Spanyol mengumumkan bahwa malam itu akan ada cena comunitaria (makan malam bersama).

Kami diminta membantu memasak. Yang jago potong sayur membantu di dapur. Yang bisa gitar membawa gitarnya. Yang tidak bisa apa-apa (termasuk saya) disuruh menyiapkan meja. Kami membuat paella sederhana, salad, dan roti dengan minyak zaitun.

Saat matahari tenggelam, kami duduk di meja panjang di halaman albergue. Saya duduk di antara Klaus dari Jerman (yang ternyata bekas tentara yang pendiam), Yuki dari Jepang (yang baru berhenti dari pekerjaan kantornya), dan Carlos dari Argentina (yang sedang berjalan untuk mengenang istrinya yang meninggal). Tidak ada yang bertanya tentang pekerjaan atau gaji. Yang ditanyakan: “Seberapa jauh kamu berjalan hari ini?” dan “Apa hal paling indah yang kamu lihat?”

Di malam itu, Klaus menangis saat bercerita tentang anak perempuannya yang tidak pernah meneleponnya. Yuki memeluknya tanpa bicara. Carlos menuangkan anggur untuk semua orang. Saya hanya diam dan menyaksikan keajaiban: orang-orang asing yang menjadi keluarga.

Hari Kedua Belas Saat Yuki Jatuh

Di tanjakan menuju Alto del Perdón, cuaca berubah dalam sekejap. Hujan deras turun, dan jalan setapak berubah menjadi sungai kecil berlumpur. Yuki tergelincir di atas batu basah dan jatuh dengan posisi yang tidak wajar. Pergelangan kakinya membengkak seketika.

Tanpa komando, kami langsung membentuk tim. Klaus memapah Yuki ke pinggir jalan. Maria memeriksa bengkaknya dengan kompeten. Carlos berlari ke desa terdekat untuk mencari bantuan. Saya membuka ransel saya yang berisi perban elastis (akhirnya berguna juga).

Dua jam kemudian, Yuki berada di klinik kecil di Pamplona. Dokter mengatakan tidak ada patah tulang, tetapi ia harus istirahat setidaknya tiga hari. Yuki menangis bukan karena sakit, tetapi karena takut harus berjalan sendirian setelah pemulihannya.

Klaus berkata dengan tegas, “Kami akan menunggumu. Camino tanpa kamu bukan Camino.”

Kami menunggu tiga hari di Pamplona. Kami menjelajahi kota, makan pintxos bersama, dan tertawa tentang betapa buruknya Klaus menyanyikan lagu Spanyol. Ketika Yuki sembuh, kami berjalan bersama lagi, dengan kecepatan yang lebih lambat, tetapi dengan hati yang lebih erat.

Hari Kedua Puluh Pertengkaran Kecil yang Mengingatkan Kami Bahwa Kami Manusia

Tidak ada keluarga yang selalu harmonis, termasuk keluarga Camino. Suatu sore di León, kami bertengkar. Masalah sepele: rute besok. Carlos ingin mengambil jalur alternatif yang lebih panjang karena katanya pemandangannya lebih indah. Maria bersikeras mengambil jalur pendek karena ia khawatir dengan lututnya yang mulai bermasalah.

Kami berdebat hampir satu jam. Suara meninggi. Klaus diam marah. Yuki mencoba menjadi penengah. Saya terjebak di tengah.

Akhirnya, kami sepakat untuk berpisah keesokan harinya. Carlos dan Klaus mengambil jalur panjang. Maria, Yuki, dan saya mengambil jalur pendek. Kami berpisah di pagi hari dengan tatapan canggung.

Tapi Camino memiliki cara sendiri untuk menyatukan kembali yang terpisah. Di malam hari, kami tidak sengaja bertemu di albergue yang sama di desa berikutnya. Kami tertawa malu-malu, lalu memesan pizza besar untuk dimakan bersama. Tanpa ada yang meminta maaf secara eksplisit, kami saling memeluk. Itu sudah cukup.

Keluarga bukan tentang tidak pernah bertengkar. Keluarga adalah tentang selalu menemukan jalan untuk kembali.

Hari Terakhir Air Mata di Plaza del Obradoiro

Hari itu, setelah 35 hari berjalan bersama, kami tiba di Santiago de Compostela. Kami berlima—Klaus, Maria, Yuki, Carlos, dan saya—berdiri di tengah Plaza del Obradoiro, menengadah ke Katedral yang megah. Tidak ada yang bicara selama beberapa menit. Hanya angin Galicia yang berhembus.

Lalu Yuki mulai menangis. Disusul Maria. Lalu Klaus yang tangguh itu ternyata juga menangis, meskipun ia berusaha menyembunyikannya. Carlos tertawa sambil mengusap air matanya. Saya? Saya hanya diam, tetapi hati saya terasa penuh hingga hampir meledak.

Kami tidak merencanakan karier bersama. Kami tidak menandatangani kontrak. Kami tidak ada hubungan darah. Tapi dalam 35 hari itu, kami telah melewati hujan, panas terik, tanjakan yang menyiksa, lepuh yang tak terhitung jumlahnya, air mata kebahagiaan, tawa yang membuat perut sakit, dan diam yang nyaman tanpa perlu mengisi dengan kata-kata.

Itu keluarga. Bukan yang lahir dari rahim, tetapi yang lahir dari perjalanan.

Setelah Camino Kami Tetap Bersaudara

Dua tahun setelah Camino, grup WhatsApp kami masih aktif. Maria mengirim foto anaknya yang baru lahir. Klaus membagikan berita tentang pencapaian lari maraton pertamanya. Yuki memposting foto restoran Korea yang baru dibukanya. Carlos mengirim puisi-puisi pendek yang ia tulis.

Kami berencana untuk bertemu lagi. Mungkin tidak di Camino. Mungkin di Sao Paulo, di Berlin, di Seoul, atau di Buenos Aires. Tapi kami akan bertemu. Karena Camino telah mengajarkan kami bahwa jarak bukanlah pemisah bagi mereka yang pernah berbagi jalan.

Keluarga Itu Ada di Mana-Mana

Pembaca yang saya hormati, mungkin saat ini Anda sedang merasa kesepian. Mungkin keluarga Anda jauh. Mungkin Anda merasa tidak ada yang benar-benar memahami Anda. Izinkan saya berpesan:

Keluarga tidak selalu tentang siapa yang lahir dari rahim yang sama. Keluarga adalah tentang siapa yang bersedia berjalan bersama Anda, siapa yang membalut luka Anda tanpa diminta, siapa yang menunggu Anda saat Anda terjatuh, dan siapa yang menangis bahagia saat Anda berdua mencapai garis akhir bersama.

Camino hanya salah satu dari sekian juta cara untuk menemukan keluarga semacam itu. Mungkin keluarga Anda sedang menunggu di kelas tari yang belum Anda ikuti, di komunitas relawan yang belum Anda temukan, di ruang obrol online yang belum Anda masuki, atau bahkan di kantor tempat Anda bekerja.

Tapi satu hal yang pasti: Anda tidak sendirian. Di suatu tempat di dunia ini, ada orang-orang yang sedang menunggu untuk berjalan bersama Anda. Mungkin Anda belum mengenal mereka. Mungkin mereka belum mengenal Anda. Tapi suatu hari nanti, jalan Anda akan bertemu. Dan ketika itu terjadi, Anda akan tahu bahwa perjalanan Anda selama ini tidak sia-sia.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merenungkan arti keluarga bersama saya. Semoga Anda menemukan orang-orang yang membuat perjalanan hidup Anda terasa lebih ringan, lebih hangat, dan lebih berwarna.

Dan ingatlah: di Camino kehidupan ini, Buen Camino bukan sekadar salam. Ia adalah doa agar langkah Anda selalu ditemani oleh mereka yang peduli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *