Selamat berjumpa lagi, para pembaca yang saya hormati.

Pernahkah Anda membayangkan bahwa sebuah perjalanan ziarah sejauh ratusan kilometer ternyata bisa menjadi salah satu pengalaman kuliner terbaik seumur hidup? Mungkin Anda berpikir para peziarah hanya makan roti keras dan air mineral. Oh, sungguh Anda keliru, pembaca yang budiman.

Hari ini, mari kita berkelana bukan dengan peta di tangan, melainkan dengan lidah dan hidung sebagai pemandu. Karena percayalah, Camino de Santiago bukan hanya menyembuhkan jiwa, tetapi juga memanjakan perut dengan cara yang paling tidak terduga.

Pagi Hari di Pamplona Aroma Kopi yang Membangkitkan Semangat

Bayangkan Anda terbangun di sebuah albergue kecil di kota Pamplona—kota yang terkenal dengan festival panjat bantengnya. Udara pagi masih dingin menusuk tulang, kaki terasa pegal, dan hati mungkin sedikit malas. Namun begitu Anda melangkah ke plaza utama, hidung Anda langsung disambut oleh aroma café con leche yang baru diseduh.

Para peziarah biasa duduk di teras kecil sambil memegang croissant hangat atau tostada (roti panggang) yang diolesi minyak zaitun dan tomat segar yang dihaluskan. Di Spanyol, mereka menyebutnya pan con tomate. Sederhana, tetapi membangkitkan semangat seperti sebuah pelukan dari ibu.

Saya pernah berbincang dengan seorang pelayan tua di sana. Katanya, “Di Camino, kopi pertama bukan sekadar minuman. Ia adalah bukti bahwa Anda selamat dari hari kemarin dan siap menghadapi hari ini.” Mendengar itu, saya hanya bisa tersenyum sambil menyesap kopi hangat.

Siang Hari di Logroño Dunia Dalam Sepiring Pinhitos

Sekarang mari kita mampir ke Logroño, ibu kota wilayah La Rioja—jantungnya anggur Spanyol. Di sini, ada tradisi kuliner bernama pintxos (diucapkan “pin-chos”), yaitu makanan kecil yang disajikan di atas sepotong roti, biasanya ditusuk dengan tusuk gigi. Anda akan menemukan jalan bernama Calle del Laurel yang dipenuhi bar-bar kecil, masing-masing menyajikan pintxos spesialisasi.

Coba bayangkan sepotong roti dengan jamón ibérico (ham kaki hitam Spanyol) yang meleleh di mulut, atau champiñones a la plancha (jamur panggang dengan bawang putih dan peterseli). Setiap tusuk gigi hanya berharga sekitar €2-€3. Kebiasaan peziarah di sini adalah “bar hopping”: makan satu pintxo dan minum satu gelas anggur merah di satu bar, lalu pindah ke bar berikutnya.

Saya tidak akan pernah melupakan seorang peziarah asal Australia yang bercerita sambil tersenyum lebar, “Saya datang ke Camino untuk mencari Tuhan, tetapi saya menemukan-Nya di dalam sepiring jamur panggang.” Kami tertawa bersama saat itu, dan entah mengapa, saya merasa ada kebenaran dalam candaannya.

Malam di Burgos Sup Bawang dan Kehangatan Jiwa

Saat matahari mulai terbenam di kota Burgos dengan katedral Gothiknya yang megah, Anda akan mencari tempat makan malam yang hangat. Di sinilah sopa de ajo (sup bawang putih ala Spanyol) menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Sup sederhana ini terbuat dari bawang putih, roti tua, paprika bubuk, kaldu, dan di atasnya diberi telur rebus atau potongan ham.

Jujur saja, sup ini tidak fotogenik. Warnanya kecokelatan, tampilannya sederhana. Tapi begitu sendok pertama menyentuh lidah, Anda akan merasakan hangatnya menyebar dari kerongkongan hingga ujung jari kaki yang lelah. Di Burgos, sup ini sering disebut sebagai “sup pemulih peziarah”. Dan percayalah, setelah berjalan sejauh 30 kilometer, sup itu terasa seperti obat mujarab.

Puncak Kemuliaan Pulpo a la Gallega di Galicia

Dan akhirnya, setelah berminggu-minggu berjalan, Anda memasuki wilayah Galicia. Di sinilah Anda akan menemukan mahakarya kuliner Camino: Pulpo a la Gallega (gurita ala Galicia).

Gurita segar direbus dalam panci tembaga raksasa, lalu dipotong dengan gunting menjadi potongan-potongan kecil menggunakan gunting khusus. Disajikan di atas piring kayu bundar, ditaburi garam kasar, paprika bubuk (ada yang manis dan pedas), dan disiram minyak zaitun murni. Tidak ada saus rumit, tidak ada hiasan berlebihan. Hanya gurita yang teksturnya lembut seperti mentega dan rasa laut yang murni.

Biasanya disajikan dengan cachelos (kentang rebus) dan segelas albariño—anggur putih segar khas Galicia. Saya menyaksikan seorang peziarah asal Jepang menangis saat menyantap hidangan ini. Ia berkata, “Saya tidak menangis karena sedih. Saya menangis karena makanan ini terasa seperti perayaan bahwa saya berhasil sampai sejauh ini.”

Camino Adalah Pesta untuk Semua Indra

Pembaca yang saya banggakan, mungkin Anda mengira Camino hanya tentang kelelahan dan pengorbanan. Tapi sebenarnya, Camino adalah bukti bahwa manusia bisa bahagia dengan hal-hal sederhana: secangkir kopi di pagi yang dingin, sepotong roti dengan tomat, segelas anggur setelah berjam-jam berjalan, dan sup hangat di malam yang gelap.

Ketika para peziarah saling bertanya, “Apa hal terbaik yang kamu makan hari ini?” itu bukan sekadar basa-basi. Itu adalah cara mereka berbagi kegembiraan, mengakui bahwa perut yang kenyang adalah salah satu bentuk kebahagiaan paling dasar dan paling jujur yang pernah ada.

Pesan untuk Anda di Rumah

Sahabat yang baik hati, jika saat ini Anda sedang membaca sambil memegang camilan atau secangkir teh, ijinkan saya berpesan: jangan remehkan kekuatan makanan dalam hidup Anda. Bukan hanya untuk mengisi perut, tetapi untuk mengingatkan bahwa kita hidup, kita merasa, kita bersyukur.

Dan suatu hari nanti, jika Anda memutuskan untuk menapaki Camino, bawalah perut yang lapar akan petualangan dan hati yang terbuka untuk rasa syukur. Karena sepanjang jalan itu, setiap suapan akan terasa seperti doa yang dijawab.

Terima kasih telah meluangkan waktu sekitar untuk membaca petualangan kuliner kita hari ini. Semoga meja makan Anda hari ini dipenuhi dengan kebahagiaan sederhana.

Buen provecho… dan Buen Camino! (Selamat menikmati… dan selamat jalan!)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *